a. Cerita Pendek

1. Sahabat

“Sekar, kamu memang sahabat kami yang terbaik,” kata salah seorang teman Sekar ketika mereka sedang makan siang merayakan ulang tahun di restauran terkenal. “Sekar, kamu adalah sahabat sejati.” Kembali Sekar mendengar kata yang sama ketika mereka sedang berlibur di salah satu vila milik Sekar di pulau Bali. Sekar mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang berwarna putih karena hanya itu yang dapat dia lakukan. “Kemana mereka…kemana para sahabatku…aku tak pernah melihat seorangpun…,” jerit batin Sekar. Sosok wanita tua masuk ke ruang itu, sambil meletakkan rantang makan siang dia tersenyum ke arah Sekar. “Tadi mama mampir ke tukang majalah kesukaanmu…mau mama bacakan?” Sekar mengedipkan mata tanda setuju. “Tuhan, terima kasih sudah memberiku sahabat sejati.”

SUMBER : http://www.cerpen.net/short-story-cerpen-in-english/sahabat.html

2. Diculik? Mau dong !

Mentari sudah mulai berani mengumbar sinar kekuningannya setelah lama bersembunyi di ufuk langit. Pagi yang cerah disertai dengan wangi embun pagi bercampur dedaunan hijau. Di sebuah rumah mewah bergaya minimalis inilah sepasang kembar identik dengan sifat berkebalikan tinggal. Winny, gadis SMU yang imut, tengil, ceroboh, berani, dan nekat. Sedangkan saudara kembarnya, Wina, gadis yang manis, feminine, teliti, lembut, lemah serta polos. Banyak yang heran dengan keajaiban dunia ini, mereka selalu tinggal bersama, dibesarkan dengan cara yang sama, cetakannya sama, tapi kok hasilnya begini?!? Tapi ya sudahlah, itu kita bahas belakangan.
Pagi ini Winny memasuki kamar saudara kembarnya, ia sudah siap dengan seragam SMUnya.
“Ngapain lu kesini?” Tegur Wina dengan tatapan aneh ke Winny.
“Nyari pengki dimana ya?” Jawab Winny asal. “Ya nggak lah, gue nyari lu! Eh, lu udah siap-siap kan buat rencana pulang sekolah nanti?”
“Udah beres!” Wina menjawab setengah berbisik.
“Gue udah tinggalin surat tuh buat orang rumah!” Winny menginformasikan. “Ya udah yuk, capcay!”
Mereka pun berangkat dengan diantar mobil Alphard papa mereka. Mereka menyimpan sebuah rencana besar sepulang sekolah nanti, sebuah pemberontakan sebagai pelajaran kepada orangtua mereka yang mereka nilai kurang perhatian, terus melanglang buana ke berbagai negara tanpa memberi perhatian pada anak-anaknya. Bahkan ulang tahun kali ini orangtua mereka tidak bisa pulang, parah.
Setelah bel pulang sekolah berdering, tanpa banyak cingcong Wina dan Winny langsung kabur dari area sekolah mereka. Gawat kalau keburu kepergok oleh supir mereka.
“Kita mau kemana nih?” Wina yang lemah sudah mulai kelelahan di jalan.
“Kita ke stasiun aja! Kita kan punya persediaan uang banyak, jadi nggak masalah kali ya kalau kita adventure dikit naik kereta, ke mana kek gitu!” Winny yang dasarnya nekat mengemukakan idenya.
“Gimana kalau ke Jogja aja?” Tawar Wina.
Ketika asyik mendiskusikan tempat tujuan mereka, Wina yang lengah malah kejambretan. “JAMBREEET!” Teriaknya panik, sedangkan Winny sudah berlari duluan mengejar jambret itu. Mau tidak mau Wina mengikuti Winny.

“Bener dia kesini Ny?” Wina bertanya ragu, dipandangnya rumah bergaya bali didepannya. Rumah yang asri dengan taman yang luas dan aneka pohon yang rindang.“Baru tahu ada jambret ngumpet di rumah orang.”
“Ini rumahnya kali!“ Winny menebak sambil membuka pagar berniat masuk.
“Eh!” Larang Wina, “Lu yakin mau masuk? Kalo…kita diapa-apain gimana?”
“Ya kita apa-apain lagi!” Winny menjawab ngaco. “Lagian kita kan berdua, dia sendiri, ngapain takut?”
“Tapi dia kan cowok!” Gumam Wina ragu, “Lagipula siapa yang bisa jamin dia sendirian di dalam.” Cemberutnya.

Lima menit kemudian yang terjadi adalah mereka berdua disekap di sebuah kamar dengan tangan terikat ke tiang. Di hadapan mereka berdiri seorang pemuda yang ternyata sudah berniat menculik mereka dari awal.
“Beruntung banget, ternyata anak pak Herdian seceroboh ini!” Pemuda yang umurnya sekitar duapuluh duaan itu berkata pongah. Dari perkataannya Winny mulai bisa mencerna bahwa penculik ini bukan asal culik, target mereka jelas dan direncanakan.
“Kalo gue bukan anaknya pak Herdian?” Pancing Winny.
“Nggak mungkin!” Pemuda itu menyeringai sambil menunjukkan dua lembar foto, itu foto mereka, entah dari mana mendapatkannya. “Winny Alexandria Herdian dan Wina Alexandria Herdian. Anak kembar dari keluarga konglomerat Herdian, sekolah di SMU Indonesia Sakti kelas dua. Apa ada yang salah?” Pemuda itu menyeringai, merasa menang.
“Berarti benar dong lu emang berniat nyulik kita dari awal!” Winny menyeringai, “Pasti ada yang suruh kan? Om-om sirik dan pengecut mana lagi yang kalah tender dari papa dan beraninya culik anak manis kayak kita biar proyeknya disetujui?” Tebak Winny.
“Lu kira gue bakal kasih tahu?” Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya.
“Berarti benar Ny, dia emang disuruh sama saingan bisnis papa!” Wina menyimpulkan.
“Tuh, mempan kan pancingan gue, sekarang tinggal cari tahu aja om-om mana yang lagi jadi saingan papa dan obsesian berat ngalahin papa!” Winny menambahkan.
Pemuda itu mati kutu, kecele dia sama gadis-gadis tengil ini.“Pintar juga kalian!” Ia nyengir maksa, sadar kelalaiannya. “Sekarang tinggal mengancam orang rumah kalian!” Pemuda itu mengambil handphonenya.
“Wah hebat bisa tahu nomor telepon rumah kita juga!” Kagum Winny, “Tapi sayang mas, kita udah keburu nulis surat yang menyatakan kita kabur dari rumah tuh!”
“Iya! Kalau telepon pasti mas dikira suruhan kami buat bikin cemas orang rumah!” Wina menambahkan.
“Habis kita keseringan jail kayak gitu sih ya, pura-pura diculik! Sekarang malah diculik beneran, asyik juga ya! Dari awal kan kita emang udah mau kabur dari rumah, eh kita malah dapat tempat nginep gratis…yah walau agak berdebu!” Winny malah bersyukur.
Pemuda itu hanya bisa melongo tak percaya dengan tingkah aneh kedua remaja ini, tapi ia masih coba telepon, “Halo? Benar ini rumahnya pak Herdian? Saya sekarang sedang menyekap Wina dan Winny, anak pak Herdian…”
Terdengar suara dari seberang telepon,     “Oh mas sedang bersama Wina dan Winny, syukurlah! Tolong jaga baik-baik ya mas, memang nakal itu anak! Sekarang siapa lagi nih yang disuruh pura-pura menculiknya…”
Pemuda itu bingung, “Tapi ini betulan!”
Suara diseberang menyelak, “Pokoknya ingatkan mereka jangan lupa makan, terus Wina nggak boleh terlalu capek, hati-hati asmanya kumat! Lalu kalau sudah capek bermain-main begini suruh mereka pulang ya mas! Terima kasih mas! Brak…tut…tut…tut…” Pemuda itu berkernyit makin bingung.
“Tuh kan mas, dibilangin nggak percaya sih!” Winny terkikik geli.
“Mas mos mas mos, lu kira mas koki! Nama gue Nano tau!” Kesal pemuda itu.
“Iya Nano! Bisa lepasin ikatan kami nggak? Sumpek nih disini terus, lagian banyak debu!” Tuntut Winny. “Ada kamar yang lebih bagus nggak? Yang lebih bersih gitu?”
“Banyak nuntut banget sih!” Nano mulai pusing.
Winny melihat saudara kembarnya yang mulai menampakkan gejala aneh, “Yah, tuh kan mas! Asma sodara gue kambuh deh! Wina paling nggak bisa di tempat berdebu gini!”
“Emang gue mau kalian tipu? Enak aja!” Nano tidak mau tertipu.
“Wooi ini beneran! Liat dong sodara gue udah ngap-ngapan gitu nafasnya! Kasian dikit kek!” Winny mulai memekik panik, cemas melihat keadaan saudaranya.
Pemuda itu memperhatikan keadaan Wina. Wajah pucat, nafas berat dan ekspresi kepayahan itu tampaknya bukan pura-pura. Ia sendiri jadi khawatir, bagaimana kalau anak ini mati dalam sekapannya, ia juga yang nantinya repot. Akhirnya Nano nekat melepaskan ikatan mereka berdua.
“Ada tempat yang lebih bersih nggak? Sama tas Wina tadi mana? Pasti ada obat asmanya disana!” Pinta Winny ke Nano sigap.
“Awas kalau kalian kabur!” Nano memberikan juga tas Wina yang tadi digunakan sebagai umpan itu.
“Iya ah elah! Kunciin aja semua ruangan disini, kita juga nggak niat kabur kok! Kan dibilangin, kita emang niat kabur dari rumah! Yang penting sekarang, ada nggak kamar yang lebih bersih?” Winny mulai kesal.
Nano berfikir sejenak. “Ikut gue!” Ajaknya.

Mereka pindah ke kamar yang lebih bersih dan luas. Kamar ini benar-benar nyaman, sangat berbeda dengan ruangan tidak terurus tadi.
“Ini kamar gue! Awas lu macem-macem disini!” Ancam Nano.
“Iya iya!” Winny berkata kesal. Ia lebih lega sekarang karena Wina sudah diberi obat asma, Wina juga tampak sudah lebih baik. Nano mengeluarkan handphonenya dan kembali menekan nomor. “Mau ngapain lu?” Tanya Winny penasaran.
“Mau telepon delivery makanan! Laper!” Jawab Nano sebelum menempelkan HPnya ke telinga. Winny dan Wina saling pandang.
“Horee! Akhirnya kita bisa makan junkfood! Eh, pesanin pizza dong!” Seru Winny heboh.
“Iya, besok kayaknya enaknya pesan bakmi atau fried chicken nih! Udah lama nggak makan yang kayak gitu! KYAA!” Wina pun bersorak gembira, mereka berdua jadi kegirangan nggak jelas.
“Woooi!” Nano menegur, “Kenapa sih begini aja girang banget? Kalian kan kaya, masa mau makan makanan begini aja norak banget!”
Wina dan Winny saling tatap, lalu kembali menatap Nano, “Lu nggak tau sih, kalau di rumah tuh kita terlalu banyak aturan. Nggak boleh makan yang berkolestrol lah! Gizi harus diatur lah! Yang ada kita malah kayak kambing dongdot, dikasih sayuran melulu! Mana boleh kita makan junkfood kayak gitu!” Winny curhat.
“Dan sekarang kayaknya kita merdeka nih dari salad and the gank!” Tambah Wina. “Udah cepetan pesanin pizza, kalau perlu kita yang bayar deh! Seloyang besar ya, biar nanti kita bisa pajamas party sambil cerita-cerita, KYAAA!” Wina heboh lagi, tambah lagi Winny ikut berlonjak kegirangan.
“Dasar cewek!” Nano cuma bisa geleng-geleng kerepotan, tapi dilakukannya juga saran dari kedua gadis itu.
“Gue nggak mau pulaang!” Celetuk Winny sambil menggigiti pizzanya. Menurutnya inilah saat-saat kebahagiaan untuknya, sungguh surga dunia. Makan pizza lesehan tanpa jaim dan table manner nggak penting itu, dengan perut kekenyangan dan mulut belepotan coca-cola.
“Iya gue juga! Disini kita pasti bisa begadang semalam suntuk sambil cerita-cerita! Kalau dirumah mana boleh, kita kan harus tidur jam sepuluh!” Wina menyetujui. Ia juga memegang pizza porsinya, tetapi cara makannya tidak sebrutal kembarannya.
Nano cuma bisa geleng-geleng lagi melihat tingkah norak kedua anak konglomerat itu. Malam ini mereka berdua sibuk cerita-cerita dan cekikikan sambil makan pizza, kadang Nano sampai ikut geli dengan cerita-cerita lucu mereka. Saat Nano tertawa, tanpa disadari Winny dan Wina memandangnya aneh.
“Lu bisa ketawa juga?” Heran Winny. Setahunya penjahat mana ada yang suka humor.
Nano jadi salting, wibawanya turun deh. “Kenapa, emang gue nggak boleh ketawa?”
“Nggak nyangka aja! Ternyata lu nggak jahat-jahat amat ya!” Wina menimpalkan. Tiba-tiba Winny teringat sesuatu, “Eh, lu suka nyemil gitu nggak? Kayak chiki, cookies, cokelat gitu? Besok beliin ya, biar kita makan bareng!”
Wina menatap Winny sumringah, “Yeeeii, pesta cemilan lagi!!!” Serunya kekanak-kanakan.
“Enaknya sih nyemilnya sambil nonton! Disini ada TV nggak?” Winny lagi-lagi bertingkah.
“Ada, dibawah!” Jawab Nano tidak curiga. Ia mulai terbiasa dengan kegilaan anak-anak ini.
“Bagus deh!” Winny teringat sesuatu, “Eh, besok ada pertandingan bola kan? Barcelona vs MU? Nonton bareng yuk! Makanya siapin cemilan yang banyak!” Ajaknya.
Mata Nano makin membulat heran, “Lu suka bola? Lu kan cewek, konglo lagi!”
Winny melirik Nano dengan tatapan remeh, “Emangnya cewek konglo manis kayak gue nggak boleh suka bola?” Winny memainkan jari-jarinya. “Lagian gue udah lama nggak ngendap-endap nonton bola dirumah gue. Dibilangin, tiap malam tuh kita jam sepuluh udah harus tidur!“
“Iya!” Wina ikut mengangguk, “Lagian kayaknya asyik juga teriak ‘GOOLL’ yang kencang sambil lonjak-lonjak di tengah malam!” Gadis itu berkata dengan ekspresi bersemangat, sungguh polos.
“Dasar anak aneh!” Gumam Nano tak habis pikir.

Esok malamnya, rencana mereka dijalankan. Berbagai cemilan tersedia di meja depan televisi, dari mulai cokelat sampai kacang kulit. Mereka bertiga semakin akrab karena mendukung tim yang sama, MU. Sesekali mereka bersorak, kadang sorakan senang kadang kecewa. Wina yang lemah pun memaksakan diri untuk begadang malam ini. Nano diam-diam kagum dengan dua gadis polos itu, begitu mudahnya kedua gadis itu mengakrabkan diri dengan orang lain, bahkan yang berimej penjahat sepertinya. Kedua gadis itu bukannya takut atau menganggapnya buruk, sekarang mereka malah memperlakukannya sebagai teman, sungguh gadis-gadis yang aneh…tapi hebat.

Pagi menyambut, para burung mulai bercicit-cuit gembira menyanyikan serenade pagi mereka. Wangi embun di dedaunan begitu jelas tercium dari taman rumah bergaya bali itu. Tapi seisi rumah itu sudah sibuk karena Wina sakit.
“Yah Wina, lu kenapa maksain diri sih begadang semalem? Lagian lu penyakitan banget sih!” Winny mengompres saudara kembarnya yang sedang demam itu dengan khawatir.
“Ya maaf, abis kan asyik, jarang-jarang lagi nonton bola serame itu!” Jawab Wina lemah.
“Nih!“ Nano masuk ke kamarnya (yang diboikot menjadi kamar perawatan Wina) dan menyodorkan obat demam plus segelas air minum.
Winny terperangah, seingatnya ia tidak pernah menyuruh Nano melakukan ini, “Wah Nano, ternyata lu perhatian juga ya! Lu nggak bakat jadi penjahat!” Puji Winny salut.
“Gue cuma mau dia cepat sembuh supaya ‘kasur gue nggak dirampas lagi dengan alasan sakit’!” Nano menunjuk tempat tidurnya yang juga diboikot paksa oleh Winny dan Wina.
Winny cemberut, “Lagian lu sih nggak gentle banget! Masa gadis manis dan imut-imut kayak kita disuruh tidur di extra bed dibawah, sedangkan lu enak-enakan tidur di sping bed empuk gini!”
“Eh, kalian tuh masih untung! Penculik lain mana ada acara ngasih kasur segala! Harusnya tuh kalian tidur sambil diikat ditiang kayak kemarin! Lagian mana ada penculik sebaik gue yang mau beliin tawanannya pizza dan semua cemilan yang lu makan itu!” Nano tidak mau kalah.
“Nggak ikhlas banget sih! Itu juga kan belinya patungan, yee!” Winny melet ke Nano, lalu beralih menghadap kembarannya. “Wina, cepat sembuh dong! Janji deh, kalo lu sembuh, besok kita jalan-jalan ke Dufan!”
Nano terbelalak kaget, ia keberatan, “What?”
“Ssst!” Winny menyelak protes Nano, “Dia emang gini, kalau sakit harus diiming-imingin dulu biar sembuh! Udah, lu diam aja!” Winny seenaknya berkicau.
“Tapi…mana ada penculik ngizinin tawanannya keluar, nggak! Lagian katanya kalian betah disini, gimana sih! Kalau kalian keluar sama aja ngasih tahu keberadaan kalian sama dunia!” Larang Nino.
“Yaelah sehari ini!” Winny membujuk, “Lagipula, Wina ini jagonya make-up artist! Pasti nggak ketahuan deh kalau udah dia dandanin! Kita juga nggak mau kali diseret disuruh pulang ke rumah kalau ada yang ngenalin kita disana!” Jamin Winny yakin.
“Bener Ny kita bakal ke Dufan? Waah, gue udah lama nggak kesana, asyik!” Cetus Wina polos.
“Iya bener, udah nggak usah dengarin omongan mas-mas pelit itu! Makanya lu sembuh!” Winny memotivasi.
Dan ajaib bin abrakadabra, dalam sehari Wina sudah baikan. Malam harinya mereka sibuk meminjam dan memilih milih pakaian Nano untuk mereka pakai. Mereka sibuk bergaya di depan cermin mencocokkan pakaian yang pas untuk pergi besok.
“Waah, kayaknya seru juga ya nyamar jadi cowok!” Winny yang suka petualangan jelas gembira.
“Iya, pake baju cowok…kayak Marry Kate and Ashley Olsen gitu! Keren!” Wina mengamini.
Nano cuma duduk di pinggir kasurnya, kali ini menghela nafas pasrah melihat lemari bercermin dan baju-bajunya sekaligus diboikot oleh dua setan centil itu.
“TING TONG!” Terdengar bel dari luar, baru saja Nano beranjak keluar mau membukakan, sudah terdengar grasak-grusuk di tangga, lalu muncullah seorang pemuda berwajah sumringah di pintu kamar.
Wina dan Winny terbelalak, “Nano ada dua?!?” Heran mereka.
“Vino?” Nano tak kalah kaget dengan kedua gadis kembar itu. “Lu bisa lepas dari mereka?”
“Iya , gue berhasil kabur!“ Ungkap pemuda dengan wajah dan postur tubuh yang persis sama dengan Nano. Setelah itu pemuda ini malah mengamati sepasang gadis kembar itu. “Ini yang lu culik?“ Tanyanya.
Nano mendekati  kembarannya dan merangkulnya. “Iya! Dan kayaknya mereka bisa langsung pulang sekarang!”
Kedua gadis itu masih kebingungan, “Tunggu, gue masih nggak ngerti nih! Ada apa sih sebenarnya?“ Winny menjadi juru bicara.
“Sebenarnya gue mau nyulik kalian karena Vino, kembaran gue ini udah sebulan ditawan sama mereka! Mereka bakal lepasin Vino kalau gue berhasil nyerahin kalian ke bos!” Cerita Nino, “Tapi berhubung gue nggak ada keperluan lagi sama bos, gue nggak butuh kalian lagi! Pulang gih sana, gue udah kerepotan sama tingkah kalian!”
Vino berkernyit geli, “Ini yang namanya penculikan?” Tanyanya heran, “Ini mereka yang lu culik, apa elu yang diculik mereka?” Ledeknya geli.
Terdengar lagi suara grasak grusuk dari luar, kali ini disertai suara pintu dibanting dan teriakan-teriakan kasar.
“Itu pasti bos!” Ujar Nano waspada. “Vin, lu ajak mereka kabur, biar gue yang mengalihkan perhatian mereka!” Komando Nano sebelum ia turun menghadapinya sendirian.
“Gawat, ayo kabur!” Ajak Vino sambil berjalan ke jendela.
“Nggak mau!” Tolak mereka berdua kompak, membuat Vino terkejut.
“Masa kita harus tinggalin Nano? Kalau kayak gini pantesan kalian terpisah terus!“ Wina emosi.
“Lagipula gue penasaran, apa sih yang bakal terjadi di bawah!” Winny memainkan alisnya, “Sayang kan kalau teknologi nggak digunakan?” Ia mengeluarkan HP dengan kamera 5 megapixel-nya. “Ini bisa jadi bukti!”
“Tapi lu nggak tau sih gimana kejamnya bos!” Vino memperingatkan.
“Nggak bakal ketahuan kok! Kita kan ngintipnya dari tangga!” Winny menjamin.
Jadi juga mereka menguntit. Pria parlente yang disebut-sebut bos itu memarahi Nano dengan kasar, tak urung juga menghajarnya. Pasti Nano merelakan diri jadi bahan penganiayaan untuk mengundur waktu. Di belakangnya mengepung banyak tukang pukul. Winny memanfatkan keadaan itu untuk direkam. Pembicaraan itu pun cukup lengkap untuk menjadi bukti, tentang profesi mereka yang sebenarnya rentenir dan menculik Vino karena keluarganya tidak dapat membayar hutang, juga tentang penculikan Winny dan Wina karena merasa tersaingi dengan kesuksesan papa mereka.
“Itu mereka ada diatas!” Tiba-tiba salah satu konco pria parlente itu berseru.
“Sekarang baru saatnya kabur!” Komando Winny panik sambil berlari ke atas beriringan.
Vino membuka jendela dan menunjukkan jalan. “Dari sini ada tangga kecil buat ke tanah kosong sebelah! Ayo cepat!“

Mereka terus berlari dengan kejaran para preman itu di belakangnya. Mereka berlari hingga jalan raya. Untung sekali mereka menjumpai sebuah taksi kosong.
“Ke kantor polisi terdekat pak! Cepat!” Pinta Wenny ketika taksi melaju.

Akhirnya atas dasar bukti dari HP Winny dan kesaksian Winny, Wina, Nano serta Vino, bos rentenir itu sukses diciduk polisi. Nano yang babak belur segera dirawat di rumah sakit mamanya Winny dan Wina. Kedua orangtua Winny dan Wina akhirnya pulang setelah cemas mendengar kabar penculikan itu yang justru berhembus setelah anak mereka lepas, mereka malah sangat berterima kasih dengan penculik itu dan kembarannya karena telah melindungi anaknya dari bos rentenir itu, cerita yang aneh memang.
“No!” Winny memanggil pemuda yang terbaring di ranjang di depannya.
“Apa?” Sahut Nano malas.
“Lu cepet sembuh ya! Janji deh, kalo lu udah sembuh nanti kita ke Dufan!“ Bujuk Winny.
“Enak aja loe!” Nano menempeleng kepala gadis tengil itu, “Emang gue kayak Wina, kayak anak kecil aja!” Melihat mereka, Vino dan Wina ikutan cekikikan geli jadinya.
“Tapi beneran! Habis yang kemaren kan nggak jadi!“ Winny merajuk.
“Iya-iya! Lagipula besok gue udah boleh pulang kok!“ Nano mengabari.
“Yang bener?” Winny terbelalak senang.
“Iya, toh luka gue nggak parah-parah amat! Cuma luka kecil gini!” Nano menenangkan gadis itu.
“Okee! Kalau gitu besok lusa kita pergi ke DUFAAAN!” Seru Winny gembira. “Pokoknya nanti kita harus naik jet coaster gede, kora-kora, tornado, power surge, perahu luncur, pontang-panting…”
Nano punya ide gila untuk menghentikan gadis ini. Ide yang pasti manjur tapi mungkin akan sedikit disesalinya. Pemuda itu mencium pipi chubby Winny, membuat Winny sontak terperangah, speechless.”Bagus deh manjur!” Celetuk Nano sok gengsi, menahan malunya.
“Tadi maksudnya apa tuh?” Winny masih berkedip-kedip tak percaya.
“Masa lu nggak ngerti?” Nano yang keburu malu bukan kepalang langsung mengembalikan gengsinya, “Dasar lemot, pikir aja ndiri!”
“Apaan!” Paksa Winny.
“Ntar aja di Dufan gw bilangnya!” Nano yang keburu hancur moodnya mengulur waktu.
“Sekarang!”
“Besok!”

Di kejauhan Wina yang menyepi bersama Wino cuma bisa melirik mereka.
“Lu yakin Na, mereka bakal jadian?” Vino yang antusias mengintip meragukan pendapat gadis itu.
“Iya, gue bisa liat kok mereka saling suka!” Wina mengangguk yakin.
“Terus kita gimana?” Vino melirik Wina dengan lirikan mautnya.
“Gimana apanya?” Wina masih bingung.
“Ya mereka jadian, kita gimana dong?” Vino memancing.
Wina memutar matanya agak malu, mulai sadar maksud pembicaraan ini, “Ya jadian juga aja! Susah amat!”
Vino yang ngarep terbelalak sumringah. “Emang lu suka sama gue?”
“Lu sendiri suka sama gue nggak?” Wina mengalihkan.     “Ditanya malah nanya balik!”
“Lu duluan gih!”
“Lu duluan deh, ladies first!”
“Lu dong harusnya, be gentle!”
“Ya udah, kita suit aja! Yang kalah yang ngomong duluan!” Vino mulai bosan bersiteru terus.
“Oke!” Wina menyisingkan lengan bajunya.

SUMBER : http://www.cerpen.net/cerpen-lucu/article_1.html

3. Seribu Pelita Ruh

Dia datang dari pelosok nan jauh. Sebagai amanat yang teramat hati-hati harus aku jaga. Aku bahagia memilikinya. Aku bangga dikaruniai Tuhan kekuatan untuk menghadirkannya sebagai tanda cinta di dunia. Asmanya… Bintang Jagad Nandyarta Dewandaru. Gadis mungil berkulit putih bersih. Matanya memancarkan cahaya kerinduan pada tenteram yang lama tersingkir dari hari-hari beratku. Sungguh sayang… di hari esoknya aku menggantungkan sejuta harapan dari keputus asaan yang membelit jiwaku. Tangisnya menyalakan kesempatan bangkit dari gelapnya mata batinku, Kakandanya adalah matahariku, Sang Demi Sukma Seribu pijar cahaya. Kakandanya adalah penjaga setia tahta Arsy Sang Maha Cahaya. Di senyum kakandanya, Tuhan memberkahiku kesempatan, untuk berjuang diantara hidup dan mati, demi menerbitkannya sebagai Tangan sang Penerang kelak dikemudian hari. Aku berkisah padamu tentang dua malaikat kecilku, yang dalam dalam kehidupanku, dengan diiringi bergumpal-gumpal cahay dari titipan Firdaus yang suci. Karena keduanyalah tanganku terulur untuk mengasihi, hatiku lapang disapu kemaafan dan jiwaku terpanggil untuk meringankan beban sesama. Dua malaikat kecilku adalah Si Laksmana Pelindung Surga Kecilku di alam fana ini. Kehadirannya menghadirkan bercak-bercak kilauan kasih di tengah kebencian dan kemuakkan pada badai nasib yang tiada bosan memporak porandakan kestabilan emosiku. Melihat keduanya, seperti melihat sejuta matahari bersinar cerah namun memancarkan kesejukan yang tembus hingga ulu hatiku. Memeluk keduanya seperti memeluk kasih sayang Sang Maha Cahaya yang murni dan indah dalam keabadian. Hadiah ini terlampau luar biasa dalam ketidak berdayaan yang mengikat erat nyaliku. Bahkan tak cukup rasanya aku melatakkan dahiku ketanah bermilyar-milyar kali, untuk sekedar bersyukur dan melantunkan pujian tasbih bagi Sang Pemberi. Aku tak membualkan madu kasturi semu dari rongga mulutku. Aku berkisah padamu untuk berbagi rasa haru suka cita padamu. Diantara musim tropis yang silih berganti menjadi saksi sejarah, di sini … aku cuma sanggup memuji kemurahan Sang Maha Kasih atas rizqinya yang luar biasa. Karena keduanya, aku rela menghibahkan musim di dadaku kepadamu. Wahai Sandaran Rinduku, tiada keriangan di dunia ini seharusnya, kecuali keriangan bidadari-bidadari kecil hadiah dari langit ke tujuh itu. Lelakiku,aku ingin menuntunmu lepas dari hitam pekatnya nafsu binatang menuju terangnya pendar-pendar cahaya yang terpancar dari kehadiran mereka.Aku ingin kau bukan hanya mendengar dan melihat, tapi mengingat dan merindui mereka, seperti Hajar kepada Ismail dan Adam kepada Habil. Wahai Bandar Perahu Tambatan Hatiku… usaikanlah gelombang murka di dadaku, hanya dengan meraih binar-binar wajah malaikat mungilku. Yang didesir darah mereka ada serpihan jiwamu, tidakkah keduanya adalah perisai sesungguhnya bagi kedholiman sisi gelap kemanusiaanmu, wahai Lelakiku? Lelakiku… lihatnya keduanya dengan seksama! Sorot mata mereka adalah sorot mata milikmu juga. Perawakan mereka adalah perawakan dirimu pula. Hanya saja mereka membaewa kilauan berjuta nur kudus dari singgasana Sang Maha Penguasa langit dan bumi. Tidakkah kau terpesona dengan “tangan” Sang Penguasa atas ini semua? Lihat…lihatlah lebih jeli! Meski cahaya-cahaya itu begitu kuat memancarkan sinarnya, kau tak perlu merasa pedih, panas dan silau. Dan mereka adalah milikmu juga…Berkahmu juga….karunia bagimu juga…seharusnya bukan? Wahai Kekasih Yang Digariskan Tuhan Sebagai Tempat Pengabdianku… jika kau merasa jalanmu mulai tak terarah, langitmu mulai temaram dan langkahmu bernapsu ingin segera menuju kegelapan… Ingatlah! Sebagian dari Dirimu adalag Sang Pembawa Cahaya Dari Karunia Tahta Arsy, Sebagian Dari Dirimu telah menantimu kembali kearah tujuanmu sebenarnya… Sebagian Dari Dirimu adalah pencerah bagi langitmu yang di saput temaram… Sebagian Dari Dirimu adalah si pengharap agar langkahmu kembali menuju ‘terang’. Jika kau merasa telah ‘tersesat’….Ingatlah keduanya untuk kembali pulang, ketuklah pintu perlahan dan penuh penyesalan, maka akan aku bukakan segera pintu itu dengan membawa serta mereka, agar pendar cahayanya menerangi wajah lelahmu. Lupakah engkau wahai Lelakiku…bersama kelahiran mereka langit mengguyurka sejuta rahmat cahaya Tahta Arsy? malaikat bermunajat dalam pusarah ka’bah, memohon dalam malam seribu bintang tentang kelahiran cahaya kita? Jadi mesti kenapa takut melihat ‘kegelapan’?… Dimanapun kau berada, apapun yang kau lakukan dengan siapapun engkau….Ingatlah! kedua Bidadari dari kemilau suci itu, menantimu di balik pintu dengan menyanyikan pujian kehadiratNya agar menyalakan terang di jalanmu. Oh, engkau yang di kakimu aku kecupi debgan takzim sebagai suri,…. mari gapailah tangan cahaya kita agar lepas dari kejahatan malam yang terus memburumu… lalu raihlah seonggok demi seonggok penyangga ‘rumah’ kita yang hancur tergelepar akibat hembusan hasrat kebinatangan yang menjijikan. Wahai Lelakiku… lihatlah pendar-pendar berkilauan itu dan memohonlah : WAHAI CAHAYA-CAHAYA PEREKAT CINTA DAN SETIAKU… BANGUNLAH APA YANG TELAH RUBUH…SATUKAN APA YANG TELAH TERSERAK..BANGKITLAH JIWA YANG TELAH MATI SEBELUM KEMATIAN ITU SENDIRI…SERTA …IKATKANLAH APA-APA YANG TERPUTUS DAN TETAPKANLAH HATI YANG LAMA TEROMBANG AMBING KEALPAAN TIADA TARA….. diakhir permohonan itu, sayang… gengamlah tangan kami sambil menutup doa itu dengan : AMIEEN… Wahai mihrab yang dijiwamu terdapat cahaya dua bidari kecilku… Angkatlah keduanya di dadamu seraya kau ciumi harum kasturi suci bermahligai amerta Illahi… Percayalah! seperti aku selalu percaya…nestapa itu akan pergi dan hari penuh harmoni itu segera kembali! Demi ribuan cahaya yang berbinar dari keduanya… Demi karunia cinta yang tiada tara…harusnya itu semua kita songsong dengan besar hati! begitu bukan? BEGITULAH SEHARUSNYA NYAWA KITA BERISI BUKAN….kami,….mencintai(mu)………………………………….

SUMBER : http://cerpen.net/cerpen-motivasi/seribu-pelitah-ruh.html

4. Menunggu Pelangi


“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi.                          Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan.                          Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini.                          Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka.     Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda.                            “ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa……” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan.                            “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini.                           Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati.                             Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia??                         Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika.                          Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin.                              Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”.                              Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama.                              Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh.                               Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku.                               Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga  tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit.                               Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.”                                Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar –  benar dipenuhi haru hari ini,                               Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini.                                “Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA”                            Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana?                                 Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama.     “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih.                                 “ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?”  tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan  heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.”                              Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini.                             Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi. Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish.     Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!”                                 Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku!                                 Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi.                                   Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata  aku sudah mati.                                  Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit?                              Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya??                            “Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi dating kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”.                            Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang.                             Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi :  “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling  gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?”       Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo”                            Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia.      Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.

SUMBER : http://www.cerpen.net/cerpen-romantis/menunggu-pelangi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s